Beaya Al Emet (2005) watch online (quality HD 720p)

Date: 22.12.2017

We offer you to watch the movie Beaya Al Emet (2005), which you can enjoy in the arms of a loved one. This film is in HD quality. Less words, more movies! Watch and enjoy!

Usianya sekitar 36 tahun. Hidup dengan seorang istri dan tiga anak, semuanya laki-laki. Mereka berlima tingal di sebuah rumah sangat sederhana berdinding bambu dengan perabot ala kadarnya.

Rumahnya menghadap ke jalan raya. Masyarakat sekitar memanggilnya Mas Amin. Generasi di bawah usianya memanggilnya Kang Amin. Selain itu, Amin itu rajin beribadah. Teman-teman seangkatan sekolahnya umumnya bekerja di perusahaan kontraktor bangunan, sesuai ijasah mereka. Tak satu perusahaan menerimanya sebagai karyawan.

Akhirnya Amin memutuskan membuka usaha sendiri, dengan membuka bengkel jasa tambal ban di depan rumahnya. Maka, menambal ban menjadi pekerjaan Amin sehari-hari. Pekerjaan itu dia lakukan tanpa ada rasa malu dan rendah diri.

Bahkan teman-teman sekolahnya yang bernasib lebih baik menjadi pelanggan rutinnya. Istrinya berjualan makanan di samping rumah. Ketiga anak laki-lakinya masih sekolah. Yang paling besar sudah kuliah. Yang bungsu masih kelas dua sekolah dasar, tidak jauh dari rumahnya. Penghasilan Amin tidak lebih dari Rp.

- Malang Tempo Doeloe Sebagai Fenomena Post-modernisme

Kadang penghasilannya kurang dari itu. Malah pernah suatu hari sama sekali tidak ada orang yang datang, alias tidak ada pengendara mobil atau sepeda motor yang bannya kempos. Tentu sehari itu Amin tidak memperoleh uang sama sekali. Di samping tempat kerjanya, berjejer beberapa botol bensin yang dijual. Kendati hidup dalam kondisi kekurangan secara material, keluarga Amin tampak biasa-biasa saja, alias ceria. Mereka tidak merasa miskin dan menderita.

Ketika suatu ketika saya datang untuk menambah angin ban mobil, saya sempat iri melihat ketenangan dan kebersahajaan keluarga itu. Sambil menunggu antrian memperoleh giliran, saya merenungkan kehidupan keluarga Amin itu.

Saat itu saya seolah memperoleh pelajaran sangat berharga bahwa bahwa ketenangan dan kebahagiaan hidup bukan semata ditentukan oleh melimpahnya harta dan tingginya kedudukan atau jabatan seseorang, sebagaimana ditunjukkan oleh keluarga tukang tambal ban itu.

Dalam hal mengelola ketenangan hidup saya merasa kalah dengan Amin. Ketika suatu kali saya datang dan ngobrol tentang apa cita-cita hidupnya, di luar dugaan saya cita-cita hidupnya hanya satu, yakni bisa menunaikan ibadah haji. Saya berpikir bagaimana Amin yang sehar-hari bekerja sebagai tukang tambal ban dengan penghasilan hanya Rp, Saya pun mengamini saja, walau dalam batin saya tertawa dari mana Amin bisa mengumpulkan uang untuk menunaikan ibadah rukun Islam kelima itu.

Menunaikan ibadah haji tentu merupakan impian bagi setiap muslim, tak terkecuali Amin. Tetapi perlu disadari bahwa ibadah haji, selain memerlukan kondisi fisik prima, juga memerlukan beaya tidak sedikit. Ketika itu Amin harus mengumpulkan uang sebanyak Rp. Maka, jika Amin ingin berhaji dengan istrinya diperlukan beaya sekitar Rp. Apa yang saya tertawakan terkait cita-cita Amin ternyata salah besar, dan saya sangat menyesal.

Saya lupa bahwa dalam kehidupan ini tidak ada yang tidak mungkin, apalagi yang menyangkut peribadatan. Kesimpulan saya tentang cita-cita Amin menujukkan kebodohan saya kok seolah-olah hidup ini tanpa Tuhan. Dengan sangat mudah bagi Tuhan membuat apa saja dan bahkan membalik rencana manusia. Beberapa tahun kemudian, saya mendengar kabar ternyata cita-cita Amin untuk berhaji itu terwujud. Di suatu hari pukul Amin belum tidur, tetapi bengkelnya sudah ditutup sejak pukul Setelah pintu dibuka, ternyata tamu yang mengetuk pintu itu meminta bantuan untuk menambal ban mobilnya yang kempos mendadak.

Dengan tulus Amin membantunya, tentu dengan membuka bengkel dan peralatan tambal ban kembali. Semua berjalan normal saja dan Amin diberi upah seperti biasa.

Dia tidak meminta tambah, walau bekerja di luar jam biasanya.

Full text of "The romance of Sir Beues of Hamtoun"

Satu bulan kemudian, orang yang meminta bantuan untuk menambal ban mobilnya itu datang lagi. Bapak kan yang datang ke sini tengah malam untuk nambal ban itu kan? Singkat cerita, tamu itu benar-benar menghajikan Amindan istrinya ke tanah suci. Mengapa tamu itu mau berkorban dengan uang sebanyak itu?

- Kisah Tukang Tambal Ban Berhaji

Ternyata tamu itu ialah seorang kontraktor bangunan yang pada malam ketika ban mobilnya kempos sedang menuju ke suatu tempat untuk lelang pekerjaan esuk harinya. Atas bantuan Senen, dia bisa mengejar waktu untuk ikut lelang bangunan.

Sebab, jika terlambat peserta lelang akan didiskualifikasi, alias tidak boleh ikut lelang karena tidak bisa presentasi. Wal hasil, setelah semua prosedur dan proses lelang dilalui, kontraktor itu berhasil memenangkan lelang bangunan dengan nilai miliaran rupiah. Karena rasa terima kasih kepada Amin yang telah membantu kelancaran perjalanan menuju tempat lelang dengan menambal ban mobilnya, kontraktor itu memberinya hadiah.

Hadiah itu berupa beaya perjalangan haji pulang pergi untuk Amin dan istrinya. Cita-cita kang Amin untuk bisa menunaikan rukun ibadah haji kelima benar-benar terwujud, tidak dengan cara menabung dan pinjam sana sini tetapi lewat ketulusan membantu orang lain yang sedang memerlukan pertolongan. Jangankan kita, Amin pun tentu tidak pernah mengira bahwa akhirnya bisa berkunjung ke baitullah dari ketulusan menjalankan profesinya sebagai tukang tambal ban.

Mas Amin dan istri bersujud syukur karena memperoleh anugerah demikian besar dari Allah lewat kedermawanan orang kaya yang dia bantu ketika ban mobilnya kempos. Rasa syukur Mas Amin semakin bertambah karena justru teman-temannya yang sudah bekerja lebh dulu di perusahaan-perusahaan kontraktor dengan gaji jauh lebih besar belum ada satupun yang bisa menunaikan ibadah haji.

Bekerja dengan tulus apapun profesi yang kita geluti dengan iringan doa yang tidak pernah berhenti menjadi pelajaran penting yang bisa kita petik dari kisah Mas Amin. Karena itu, jika kita berprofesi sebagai dosen mengajar dan membimbing mahasiswa dengan niat tulus menyebarkan ilmu pengetahuan dan mahasiswa juga dengan tulus menerima materi yang diajarkan beserta nasihat-nasihatnya, bukan suatu yang mustahil cita-cita kita yang selama ini terpendam akan dikabulkan Allah, tanpa kita tahu waktu dan caranya seperti apa, seperti halnya mas Amin yang tidak pernah membayangkan memperoleh anugerah seperti itu.

Tetapi, kendati sudah berhaji, profesi tukang tambal ban tetap dilakukan. Sebab, lewat profesi itu Allah memberikan rezeki kepada Mas Haji Amin dan keluarganya.